Berdayakan Petani Kopi, SITH ITB Lakukan Kegiatan Diseminasi Teknologi Pemanfaatan Maggot

Berdayakan Petani Kopi, SITH ITB Lakukan Kegiatan Diseminasi Teknologi Pemanfaatan Maggot

Sumedang, KORSUM – Dalam rangka pemberdayaan para petani kopi Sumedang, Tim Program Pengabdian Masyarakat (PPM), Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SIHT ITB) menyelenggarakan kegiatan ‘Diseminasi Teknologi Pemanfaatan Serangga (Larva BSF/Maggot) untuk Pakan Ternak dan Ikan, di Desa Nagarawangi Kecamatan Rancakalong Kabupaten Sumedang, Minggu, (13/9).

Kegiatan ini diikuti oleh peserta yang merupakan petani dari setra kopi Kabupaten Sumedag, antara lain Kelompok Tani Maju Mekar Desa Nagarawangi Kecamatan Rancakalong, Kelompok Tani Bubuay Jayagiri Desa Genteng Kecamata Sukasari, dan para PPL yang berkeinginan untuk mengembangkan BSF/Maggot.

Selain pemaparan materi, pada kegiatan tersebut Tim PPM SITH ITB juga mendemonstrasikan terkait langkah-langkah pemanfaatan larva Lalat Tentara Hitam/Black Soldier Fly (BSF) untuk pakan ternak, seperti ayam petelur, ayam joper, bebek, entog, dan ikan.

Untuk mendorong ke arah tersebut, Tim PPM SITH ITB juga memberikan bantuan stimulan untuk aplikasi pemanfaatan BSF/Maggot berupa, Ikan Nila dan Ayam Joper (Kelompok Maju Mekar, Rancakalong), Bebek (Kelompok Karya Mandiri Prima, Desa Sukawangi, Pamulihan), Ikan Nila dan Burung Puyuh (Kelompok Bubuay Jayagiri, Sukasari), Ayam petelur kepada Kelompok Tani Jaya Makmur, Genteng, Sukasari dan Perwakilan PPL Dinas Pertanian

Ketua PPM Dr. Ramadhani Eka Putra, Ph. D mengatakan, larva BSF atau sering disebut Manggot memiliki kelebihan yaitu mudah dan murah untuk dibudidayakan serta kandungan proteinnya cukup tinggi sehingga memiliki potensi yang cukup tinggi sebagai pengganti pakan ternak.

“Jadi, melalui pemanfaatan maggot ini, diharapkan dapat mengurangi produksi limbah kulit kopi dan limbah sampah terutama sampah dapur yang merupakan sumber makanan untuk maggot dan menghemat pengeluaran untuk biaya pakan ternak,” ujarnya.

Adapun harapan dari kegiatan ini, sambung Ramadhani, yaitu para peserta dapat mengaplikasikan secara mandiri budidaya BSF dan memanfaatkannya sebagai pakan ternak secara berkelanjutan.

Selanjutnya, para kelompok tani dan para PPL juga mau bertekad untuk menerapkan pengelolaan BSF/Maggot ini sebagai diversifikasi usaha ekonomi produktif dipedesaan, dalam rangka upaya penanganan krisis ekonomi dampak dari Pandemik Covid 19 melalui penyerapan tenaga kerja.

“Melalui kegiatan ini juga, diharapkan dapat meningkatkan produktifitas dan nilai tambah serta menambah pendapatan ekonomi rumah tangga petani selain dari pendapatan usaha tani yang pokok yaitu bertani kopi,” tandasnya.

Hal senada dikatakan Dr. Ir. Mia Rosmiati, MP, dimana potensi dan manajemen budidaya maggot, baik untuk dimanfaatkan sendiri oleh peternak atau untuk dijual kembali.

Selain itu, nilai tambah petani kopi dan masyarakat yang mengelola BSF/Maggot menjadi daya tarik dan motivasi untuk mulai merintis usaha mengelolanya karena pangsa pasar sekarang sudah banyak yang menampung dan membeli produk BSF/Maggot.

“Asal aya kadaek sareung leukeun, kemudian tekun menjalaninya, produk turunannya yang berbahan baku BSF/Maggot, itu harganya eknomis dan dapat menguntungkan bagi kelompok yang memanfaatkannya,” kata Dr. Ir. Mia menegaskan.

Diakhir kegiatan, salah satu Mahasiswa Rekayasa Pertanian, Salma Nurhanasah, memaparkan terkait hasil penelitian mengenai alternatif-alternatif pakan yang berasal dari maggot.

Menurutnya, alternatif tersebut diantaranya yaitu pemberian secara langsung (fresh maggot), pemberian dalam bentuk tepung yang dibuat dengan cara mengeringkan maggot, kemudian menghaluskannya dengan blender. dan yang terakhir campuran dari tepung jagung, dedak, dan maggot yang dibentuk pelet kemudian dikeringkan.

Kegiatan diseminasi teknologi pemanfaatan serangga (Larva BSF/Maggot) untuk Pakan Ternak dan Ikan, dilanjutkan sesi dinamika kelompok untuk melakukan langkah-langkah kebersamaan di kelompok tani guna mengimplementasikan strategi pengelolaan usaha mampu dilakukan oleh petani kopi yang dipandu oleh Ir. Budi Djatnika selaku perwakilan dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumedang.

Selama sesi diskusi para peserta cukup aktif dan antusias dalam bertanya dan berkonsultasi terkait pengaplikasian maggot sebagai pakan hewan ternak dan ikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *