SUMEDANG – Dikenal sebagai kota tahu, Sumedang ternyata juga menyimpan potensi besar di sektor pertanian, khususnya tembakau. Kabupaten ini bahkan menempati posisi penghasil tembakau terbesar kedua di Jawa Barat setelah Garut.
Data dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Sumedang mencatat, produksi tembakau di Sumedang mampu mencapai 21 ton daun tembakau basah per tahun, menjadikannya penyumbang signifikan dalam Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) dari pemerintah pusat.
440 Hektare Lahan Tembakau di Dua Kecamatan Strategis
Dari total lebih dari 2.100 hektare lahan tembakau yang tersebar di 25 kecamatan di Sumedang, Tanjungsari dan Sukasari tercatat sebagai wilayah paling dominan. Menurut Kepala UPTD Agrobisnis Tembakau, Dadi Runadi, dua kecamatan tersebut menyumbang sekitar 440 hektare, masing-masing 229 hektare di Tanjungsari dan 215 hektare di Sukasari.
“Meski luasnya tak sampai setengah dari total lahan tembakau, hampir seluruh petani di Tanjungsari dan Sukasari menanam tembakau. Bahkan banyak dari mereka juga menyewa lahan di luar wilayah,” ujar Dadi.
Desa Penghasil Tembakau Unggulan
Di Kecamatan Tanjungsari, wilayah Desa Kadakajaya dan Pasigaran dikenal sebagai lumbung tembakau. Sementara di Kecamatan Sukasari, Desa Genteng dan Desa Sukasari menjadi titik produksi utama.
Dominasi petani tembakau dari dua kecamatan ini bukan hanya terlihat dari volume tanam, tetapi juga dari keterlibatan aktif mereka dalam berbagai lahan di luar kampung halaman. Tak sedikit petani yang menyewa lahan di wilayah lain untuk memperluas garapan tembakaunya.
Dukungan Dana DBHCHT untuk Petani Tembakau
Pemerintah Kabupaten Sumedang terus menunjukkan komitmennya terhadap keberlanjutan sektor tembakau melalui penyaluran bantuan sarana produksi (Saprodi) setiap tahunnya. Bantuan tersebut bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang memang dialokasikan untuk mendukung sektor ini.
“Kami dari UPTD saat ini fokus menyuplai Saprodi, seperti pupuk, pestisida, hingga rumah pengering. Ini semua untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani tembakau Sumedang,” jelas Dadi.
Dengan potensi lahan dan SDM yang kuat, serta dukungan kebijakan yang konsisten, Tanjungsari dan Sukasari diproyeksikan akan terus menjadi tulang punggung produksi tembakau Sumedang dalam jangka panjang.

